Tips Jika Anak Hadapi Ujian

Tiada hidup tanpa ujian. Masing-masing orang memiiliki episode ujiannya sendiri. Ujian membuat orang kuat, atau sebaliknya, ujian membuat orang menjadi lemah. Seperti bunyi peribahasa Arab:
بِالاِمتِحَان يكرم المرءُ أَو يُهانُ
“Dengan ujian, seseorang bisa mulia atau terhina”
Untuk level anak-anak, di mana persoalan mereka belum sekompleks orang dewasa, bentuk ujian yang paling terdekat adalah ujian di tempat mereka sekolah. Lalu, bagaimana orang tua memberi assist manakala anak sedang hadapi ujian?
Artikel singkat ini berisi tips sederhana mengenai hal tersebut.
- Mencontohkan belajar
Sebagaimana lumrahnya, orang tua pasti menginginkan anaknya belajar setiap hari. Lebih-lebih saat ujian. Namun, belajar bagi sebagian besar anak bykanlah hobi. Belajar perlu diajarkan. Lebih dari itu, belajar perlu dicontohkan. Sebab pendidikan terbaik adalah pendidikan dengan keteladanan atau At Tarbiyah bil Qudwah. Persoalannya sudahkah orang tua mencontohkan belajar kepada anak-anak? Mencontohkan belajar itu sederhana. Cukup membaca buku kesukaan kita saat jam belajar anak-anak. Buku apa saja. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa bukan hanya dirinya yang sedang belajar.
Hindari menonton TV atau membuka gadget di jam belajar anak. Secara psikologis, dapat mempengaruhi semangat anak dalam belajar.
- Membedah Kisi-Kisi
Ini adalah level selanjutnya dari sekadar mencontohkan belajar. Orang tua turut terlibat dalam belajar anak. Setiap ujian di level sekolah, sekarang ini sudah dilengkapi dengan kisi-kisi. Baik yang bersifat global maupun terperinci hingga level nomor dan perkiraan bentuk soal.
Ajaklah anak untuk turut membedah kisi-kisi tersebut. Ini perlu sebab tidak semua anak memahami bahasa yang digunakan dalam kisi-kisi. Membedah bersama orang tua akan membantu anak memahami maksud kisi-kisi. Mulailah dengan menyandingkan kisi-kisi dengan buku yang dipelajari anak. Bersama-sama mencari letak halaman yang perlu dibaca.
- Jadikan Ujian sebagai hal yang istimewa
Sebenarnya bagian ini tergantung paradigma berpikir orang tua. Bagi sebagian orang tua, jika ada ujian, anak harus tirakat atau prihatin. Dengan puasa atau perbanyak amalan sunnah, misalnya. Sebagian yang lain sebaliknya. Justru jika ujian, anak diberi asupan gizi yang lain dari biasanya.
Apapun itu, jadikan ujian menjadi nampak istimewa di mata anak. Hal baik yang sudah rutin dilakukan bisa ditingkatlan. Hal yang kurang perlu, ditinggalkan dulu selama ujian.
- At Tarbiyah Bil Hadiyyah
Maksud kalimat di atas adalah pemberian reward tertentu jika anak mencapai target yang disepakati. Target tiap anak tidak harus sama. Yang paling penting, target disepakati antara anak dan orang tua. Lalu janjikan hadiah jika target tercapai. Hadiah juga tidak harus selalu bernilai besar. Bebungah seperti ini masih terbukti efektif utuk memompa semangat anak.
- Ingatkan Anak untuk rajin mengecek
Selalu tanamkan pada anak untuk tidak buru-buru keluar dari lokasi ujian. Pastikan untuk melakukan pengecekan secara berlapis. Check, double check, check again, final check. Amat sayang jika terjadi kesalahan hanya karena anak tidak teliti dalam menjawab atau memahai perintah soal. Orang Arab sering bilang:
فَهمُ السُّؤال نصفُ الجَواب
“Memahami Soal adalah separuh dari jawaban”
- Berdoa
Sebagaimana lazimnya seorang muslim yang selalu menyandarkan sesuatunya pada sang Khaliq. Awali dan akhiri belajar dengan doa. Sebab doa adalah inti ibadah. Dikabulkan atau tidak, dengan berdoa saja sudah mendapat pahala jika dilakukan dengan tulus.
Kira-kira itulah tips yang bisa kita lakukan, di mana kami yakin bahwa sebagian besar orang tua sudah melakukan itu semua. Bagi yang belum, selamat mencoba!